Friday, January 6, 2012

2012, Macet Diprediksi Mulai dari Halaman Rumah

108CSR.com - Prediksi bahwa kemacetan lalu lintas di Ibu Kota pada tahun 2015 yang dilakukan Japan International Corporation Agency (JICA) bakalnya bukan sekadar isapan jempol. Bahkan jangan kaget mulai tahun 2012 ini lebih cepat dibandingkan prediksi tersebut yang dimulai sejak kita keluar dari rumah.

Hal itu diamini seluruh warga Jakarta yang merasakan indikasi tersebut sebut saja Leny (45), salah satu karyawan media massa yang terletak di kawasan Jakarta Barat, tak menampik prediksi itu. Saat ini pun, kata ibu dari dua anak ini, pertanda itu sudah dia rasakan dalam mejalani aktivitas hariannya. Leny, yang pergi-pulang selalu diantar sang suami dengan kendaraan pribadi dari kawasan Pluit, membutuhkan waktu kurang lebih satu jam lebih untuk sampai ke kantornya.

Padahal, waktu tahun 2005 lalu waktu yang ditempuh dari kawasan Pluit ke Kedoya, Jakarta Barat hanya 20 menit saja. "Dulu mah belum ada mal jadi jarak tempuhnya cepat kalau sekarang bisa satu jam lebih. Bahkan bisa ber-jam-jam kala macet menjelang sore," katanya, Jumat (6/1/2012).

Hal serupa juga diungkapkan Hermanto (33), warga Pulogebang, Jakarta Timur, yang bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan swasta di kawasan Roxi, Jakarta Pusat dengan menggunakan angkutan umum, ia membutuhkan waktu minimal tiga jam untuk sampai ke kantornya. Padahal, sambungnya, pada tahun 2005 lalu dia hanya butuh waktu maksimal satu setengah jam saja.

Hal serupa diungkapkan Santo (37), tukang ojek yang mangkal di depan Mapolda Metro Jaya. Menurut dia, pada tahun 2005 untuk mengantar penumpang ke Slipi hanya perlu waktu 15-20 menit, tetapi sekarang sekitar 45 menit. Padahal, jaraknya hanya dua kilometer.

Menurut catatan Polda Metro Jaya, tahun 2011 ada 11.362.396 kendaraan bermotor yang menyesaki kota Jakarta setiap harinya. Kendaraan sebanyak itu berasal dari Jakarta sendiri yang jumlahnya 7 juta lebih, ditambah kendaraan dari Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor karena pemiliknya bekerja atau beraktivitas di Jakarta.

Pada tahun 2012 ini jumlah kendaraan diperkirakan akan meningkat menjadi 12 juta lebih. Keadaan ini tidak terimbangi oleh pertumbuhan ruas jalan di Jakarta yang hanya 0,01 persen per tahun.

Dimanfaatkan

Kemacetan sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat Ibu Kota. Bahkan kemacetan parah terjadi di sekitar kantor polisi, terutama sekitar Mapolda.

Pantauan di lapangan, sepanjang Jalan Gatot Subroto, yang mengarah ke Slipi (barat) maupun ke Pancoran (timur), kemacetan parah terjadi pukul 07.00 sampai sekitar pukul 09.30. Sementara itu, sore dan malam hari terjadi pukul 16.30-20.00. Bahkan pada hari Jumat jalur Jalan Gatot Subroto yang mengarah ke timur kerap masih macet hingga pukul 22.00.

Pemandangan serupa terlihat di jalan protokol lainnya, seperti di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, Jalan HR Rasuna Said, maupun Jalan Prof Dr Satrio. Jalan-jalan kecil yang menghubungkan ketiga jalan itu juga selalu padat ketika jam-jam sibuk tersebut.

Menghadapi kondisi ini, aparat polisi lalu lintas (polantas) seakan tidak mampu memberi formula untuk merekayasa dan mengurai kemacetan. Akibatnya, sudah menjadi pemandangan biasa jika para pengendara sepeda motor maupun mobil menjadi frustrasi. Yang paling parah adalah banyaknya pengendara yang kesal lalu naik ke trotoar atau jalur busway. Tragisnya lagi, di saat bersamaan di lokasi yang lain oknum-oknum polantas asyik melakukan jebakan-jebakan untuk pungutan liar (pungli) terhadap masyarakat yang frustrasi dengan kemacetan yang parah.

Menurut data Indonesia Police Watch (IPW), ada 40 titik lokasi jebakan oknum polantas di Jakarta ini. "Saat ini ada 40 titik lokasi penjebakan yang dilakukan oknum polisi lalu lintas di Jakarta. Aksi menjebak pengendara untuk kepentingan melakukan pungutan liar itu terus-menerus dibiarkan. Sampai sekarang aksi penjebakan terus berlangsung," kata Neta Pane, Ketua Presiedium IPW, baru- baru ini.

Menurut Neta, titik-titik yang kerap dijadikan lahan pungutan liar itu terdapat di hampir seluruh jalur busway. Selain itu, di hampir seluruh flyover dan underpass, seperti di Pasarminggu, Pramuka, Tanahtinggi, Pesing, dan lain-lain.

"Aksi polisi ini sudah banyak dikeluhkan publik, tapi para petinggi Polda Metro Jaya tetap saja tidak peduli dan membiarkannya," katanya. Padahal, kata Neta, polisi saat ini sudah mendapat kenaikan remunerasi.

Sementara itu, beberapa waktu lalu Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Azas Tigor menjelaskan, percuma polisi melakukan rekayasa sehebat apa pun maupun Dinas Perhubungan mengeluarkan berbagai macam langkah apabila tidak ada kebijakan untuk menghambat populasi kendaraan di DKI Jakarta. Sebab, menurut Tigor, jumlah kendaraan pribadi di Jakarta memang jauh lebih tinggi ketimbang kendaraan umum.

Hal serupa diungkapkan pula oleh Kasubdit Dikyasa Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Kanton Pinem. Menurut Pinem, masalah kemacetan bukan hanya tanggung jawab polisi. Kemacetan lalu lintas di Jakarta harus ditangani secara bersama-sama, di antara setiap stake holder, seperti dishub, PU jalan, maupun sudin-sudin di setiap kota administrasi.

Sebab, sambungnya, penyebab kemacetan di Jakarta sangat beragam, mulai dari minimnya jalan serta banyak berlubang sampai banyaknya pedagang kaki lima (PKL). (jek)

sumber

komen ts : weleh weleh gawat juga, kalau di depan rumah aja sdh macet apalagi di jalan raya:capedes

Rianthz 06 Jan, 2012

Admin 06 Jan, 2012


-
Source: http://situs-berita-terbaru.blogspot.com/2012/01/2012-macet-diprediksi-mulai-dari.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

No comments:

Post a Comment

Post a Comment